4 Fakta Unik Di Balik Ikat Kepala Sunda Yang Harus Kamu Tahu

 

Keberagaman budaya di Indonesia begitu melimpah, begitu juga dengan budaya Sunda. Salah satu yang tak boleh dilewatkan jika membahas tentang Sunda adalah ikat kepala. Tokoh Sunda seperti Ridwan Kamil sering kali menggunakan penutup kepala. Rupanya penutup kepala tersebut memiliki arti sendiri dan mencirikan etnis Sunda yang kental. Untuk mengetahui lebih banyak ikat kepala Sunda ini, kamu bisa menyimak ulasan berikut.

Fakta Unik Dan Menarik Di Balik Ikat Kepala Asli Sunda

  1. Dahulu Mencerminkan Status Sosial

Nama lain dari ikat kepala ini adalah Totopong yang bagi masyarakat Sunda zaman dahulu mencerminkan status sosial. Dengan adanya totopong, bisa terlihat jelas kedudukan seorang pria di masyarakat sehingga bentuknya beragam. Bentuk beragam ini bisa menjadi simbol yang berkaitan dengan upacara adat, keagamaan hingga status sosialnya. Apalagi untuk menggunakan totopong ini butuh kejelian, ketelatnena dan kesabaran sehingga wajar jika mencerminkan status.

  1. Di Bagi Menjadi Dua Jenis

Jika melihat sejarah, iket ini dibagi menjadi dua yakni iket kiwari dan iket bukun. Iket buhun memiliki model lama yang banyak digunakan oleh sesepuh zaman dahulu. Iket ini dibentuk dari kain persegi yang kemudian dilipat dengan aturan khusus. Sehingga membentuk model iket julang ngapak, parekos jengkol, buaya ngangsar dan berbagai iket yang biasanya digunakan di kampung kampung adat.

Sementara untuk ikat kepala Sunda Kiwari memiliki model yang modern dan banyak digunakan oleh orang sekarang. Meskipun sudah mengalami perubahan, namun tidak merubah fungsi ikat kepala itu sendiri. Dengan adanya iket Kiwari, maka generasi saat ini bisa menggunakan ikat kepala yang lebih modern. Ikan kepala yang termasuk iket kawari antara lain, Iket Maung Leumpang, Iket Batu Kincir, Iket Praktis dan lain sebagainya.

  1. Fungsi Penggunaan Iket

Tujuan penggunaan ikat kepala sendiri sangat banyak, mengingat ikat kepala ini sudah ada sejak lama. Tujuannya adalah sebagai penutup rambut, alat melindungi diri, pelindung kepala hingga bisa digunakan untuk membawa barang. Karena memang kain ikat ini cukup lebar, bahkan bisa difungsikan untuk sajadah saat sholat. Untuk memperlihatkan status sosial umumnya dilihat dari lipatan dan juga jenis kain yang digunakan untuk ikat kepala.

  1. Lipatan dan Ikatan Menunjukkan Kasta

Lipatan dan juga ikatan pada ikat kepala Sunda tidak hanya sekedar lipatan. Sebab di dalam lipatan terdapat arti serta makna filosofi yang berkaitan erat dengan pekerjaan seseorang. Inilah mengapa dari lipatan dan ikatan bisa melambangkan kasa serta status sosilanya di masyarakat. Hal ini rupanya dilatar belakangi oleh Tatar Sunda yang memang sudah tidak ada kasta tetapi sejajar.

Mungkin banyak orang awam yang melihat ikat kepala hanya sebagai hiasan atau ikat kepala saja. Padahal dibalik ikat kepala tersebut menyimpan banyak makna yang harus diketahui juga. Inilah yang menjadikan Indonesia begitu kaya akan budaya yang masih dipegang teguh hingga saat ini. Dari ulasan mengenai ikat kepala masyarakat Sunda, tentunya ada pengetahuan yang bisa diambil.